Bali terkenal dengan keindahan alam, objek-objek wisata yang memukau mata, dan kebudayaan yang religuis, karena mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, pulau ini dikenal juga dengan nama Pulau Seribu Pura. Pura Besakih juga bisa diblang sebagai ibu dari semua pura yang ada di Bali dan konon katanya pembangun Pura Besakih diperkirakan di mulai pada tahun 163 Masehi, namun benar apa tidak nya awal pembangun Pura Besakih di mulai pada tahun 163 Masehi masih belum dipastikan.

Pura Besakih adalah tempat sembayang umat beragama Hindu di Bali. Di dalam area Pura ini, tidak hanya terdapat satu Pura, tetapi banyak Pura. Karena begitu banyaknya terdapat Pura dalam satu wilayah, maka Pura Besakih Bali adalah Pura terbesar di Indonesia. Pura Besakih Bali terdiri dari 1 pusat Pura yang diberi nama Pura Penataran Agung Besakih dan terdapat 18 Pura pendamping yang berada di sekeliling dari Pura Penataran Agung Besakih. 1 buah Pura Basukian dan 17 pura lainnya. Pura Besakih Bali juga sering disebut dengan nama Pura Agung Besakih.

Pada artikel ini akan menjelaskan tentang Pura Besakih ini, siapa tahu di antara pembaca ada yang sedang berencana untuk mengunjungi Pura Besakih, bisa membantu anda untuk lebih kenal dengan Pura Besakih.

  • Sejarah Pura Besakih

Pasti banyak yang penasaran siapakah yang pertama kali membangun Pura Besakih? Dikutip dari inputbali.com yang pertama kali membangun Pura Besakih adalah seorang tokoh agama Hindu yang berasal dari India, namun sudah lama menetap di Jawa, yang bernama Rsi Markandeya.

Dulunya belum terdapat selat Bali, ini dekarenakan Pulau Jawa dan Pulau Bali masih tersambung belum di pisahkan oleh lautan. Dan disebut dengan nama Pulau Dawa, ini karena pulau yang sekarang kita sebut Pulau Jawa dan Pulau Bali ini sangat panjang yang diberi nama Pulau Dawa yang mempunyai artinya pulau panjang.

Awal mulanya berdiri Pura Besakih adalah ketika Rsi Markandeya bertapa di Gunung Hyang (Gunung Dieng di Jawa Tengah). Setelah sekian lama bertapa disana, beliau mendapatkan titah dari Hyang Widhi Wasa agar beliau dan para pengikutnya merabas hutan di Pulau Dawa dari selatan menuju ke utara dan setelah selesai, tanah itu dibagi-bagikan kepada para pengikutnya.

Kemudian berangkatlah beliau berasama dengan 8000 pengikutnya ke tanah Bali. dan sesampainya di tempat belai langsung memerintahkan pengikutnya untuk memulai merambas pohon-pohon di daerah tersebut dari selatan menuju ke utara. Tapi saat para pengikutnya sedang merabas hutan, banyak yang terkena penyakit dan meninggal dunia adapula yang meninggal karena di serang binatang buas, karena tidak terlebih dahulu melakukan upacara yadnya (bebanten/sesaji).

Melihat nasib para pengikutnya beliau memerintahkan para pengikutnya untuk menghintikan perambasan dan mengajak para pengikunya untuk kembali ke Jawa. Sesampainya di Jawa beliau kembali ke tempat bertapanya untuk memohon petunjuk dari sang Hyang Widhi Wasa. Setelah lama bertapa kembali timbul keinginan untuk melanjutkan merambas hutan tersebut. Akhirnya belai bersama dengan 4000 pengikutnya termasuk para Pandita dan para Rsi yang berasal dari Desa Aga yang mendiami lereng Gunung Rawung.

Sesampainya di tempat Rsi Markandeya langsung melakukan Upakara Yadnya, yaitu Dewa Yadnya dan Buta Yadnya. Setelah selesai upacara para pengikutnya disuruh untuk melanjutkan merambas hutan. Ketika dilihat sudah cukup luas daerah hutan yang dirambas, sang Yogi Markandeya memerintahkan para pngikutnya untuk menghentikan perabasan hutan, dan beliau memulai membagi tanah hasil perabasan kepada pengikut-pengikutnya.

Pada tempat perambasan hutan, Rsi Markandeya menanam kendi (caratan) yang berisikan 5 jenis logam dan air suci. Logam tersebut antara lain emas, perak, tembaga, besi dan perunggu. Kelima logam tersebut dimasyarakat Bali disebut dengan mama Pancadatu. Bersamaan dengan 5 logam tersebut ditanam juga permata yang disebut Mirahadi yang artinya mirah yang utama. Tempat penanaman kendi inilah yang disebut dengan nama Basuki yang artinya selamat. Diberikan nama Basuki atau selamat dikarenakan dalam perambasan hutan para pengikut dari Rsi Markandeya selamat melaksanakan tugasnya. Dengan berjalanyan waktu nama Basuki berubah menjadi Besakih.